PERBANDINGAN ANTARA KITAB FIQIH SUNNAH DAN KITAB FATHUL QARIB tentang Berkabungnya perempuan beriddah

9 02 2010

Kitab Fiqih Sunnah:

حداد المعتدّة:
يجب على المرأة أن تحد على زوجها المتوفّى مدّة العدّة، وهذا متّفق عليه بين الفقهاء، واختلفوا في المطلّقة طلاقا بائنا. فقال الأحناف: يجب عليها الإحداد. وذهب غيرهم إلى أنّه لا حداد عليها.
Berkabungnya perempuan beriddah:
“Perempuan yang kematian suaminya selama dalam iddah ia wajib berkabung. Hal ini telah disepakati para ahli fiqih, tetapi mereka berselisih pendapat tentang perempuan dithalaq ba’in. Golongan Hanafi berkata: ia wajib berkabung. Golongan lain berpendapat: tidak wajib ia berkabung.

Kitab Fathul Qarib:
ويجب على المتوفّى عنها زوجها الإحداد وهو لغة مأخوذ من الحدّ وهو المنع وهو شرعا لإمتناع من الزينة بترك لبس مصبوغ يقصد به زينة كثوب أصفر أو أحمر ويباح غير المصبوغ من قطن وصوف وكتان وابريسم ومصبوغ لا يقصد لزينة. والامتناع من الطيب أي من استعماله في بدن أو ثوب أو طعام أو كحل غير محرم أما المحرم كالاكتحال بالإثمد الذي لا طيب فيه فحرام إلاّ لحاجة كرمد فيرخص فيه للمحدة ومع ذلك تستعمله ليلا وتمسحه نهارا إلاّ إن دعت ضرورة لاستعماله نهارا وللمرأة أن تحد على غير زوجها من قريب لها وأجنبي ثلاثة أيّام فأقلّ. وتحرم الزيادة عليها إن قصدت ذلك فإن زادت عليها بلا قصد لم يحرم.
“Wajib bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya untuk beriddah. Menurut bahasa kata “ihdad” adalah terambil dari kata “haddu” yang artinya menahan. Sedangkan menurut syara’ yaitu menahan diri dari berhias dengan tidak memakai pakaian yang dikelir, yang bertujuan untuk berhias, seperti kain yang kuning atau merah. Dan diperbolehkan memakai pakaian yang terbuat dari kapas, bulu, serat, dan sutra yang dikelir tidak untuk tujuan berhias. Dan menahan dari wangi-wangian dalam arti memakainya di badan, pakaian, makanan atau bercelak yang tidak diharamkan.

Sedangkan celak yang diharamkan, seperti memakai celak dengan itsmid yang tidak berbau wangi, maka hukumnya haram kecuali karena ada kepentingan, seperti karena penyakit mata. Bagi perempuan yang ihdad (berkabung) diberi dispensasi (kemurahan)

memakai wangi-wangian pada waktu malam hari dan boleh mengusapnya pada waktu siang hari. Boleh bagi perempuan untuk berkabung atas kematian selain suaminya, yaitu dari kerabat atau laki-laki lain selama 3 hari kalau bisa kurang dari 3 hari. Dan haram melebihi 3 hari jika memang perempuan itu mempunyai tujuan berkabung, jika menambah 3 hari tanpa ada tujuan, maka tidak haram hukumnya.

PERBANDINGAN ANTARA KITAB FIQIH SUNNAH DAN KITAB FATHUL QARIB

Dalam kitab Fiqih Sunnah, para ahli fiqih berpendapat: perempuan yang ditinggal mati suaminya wajib berkabung (ihdad), dan pendapat ini diikuti juga oleh golongan Hanafi. Tapi golongan lain berpendapat: tidak wajib berkabung. Untuk berapa lamanya waktu bekabung, di dalam kitab ini tidak dijelaskan.
Dalam kitab Fathul Qarib, bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya juga wajib berkabung. Dan bagi perempuan yang berkabung diberi kemurahan untuk memakai wangi-wangian pada malam hari, dan boleh menghilangkannya pada waktu siang hari kecuali bila adanya faktor terpaksa yang menarik untuk memakainya. Wajib bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya untuk terus menerus berada di dalam rumah yaitu rumah yang ditempatinya, kecuali karena ada kepentingan yang mendesak atau karena tepaksa, maka boleh baginya keluar rumah.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: