Qardh

7 02 2010

A. Pendahuluan

Ajaran Islam mengakui adanya perbedaan pendapatan dan kekayaan pada setiap
orang dengan syarat bahwa perbedaan tersebut diakibatkan karena setiap orang
mempunyai perbedaan keterampilan, inisiatif, usaha dan resiko. Namun
perbedaan itu tidak boleh menimbulkan kesenjangan yang terlalu jauh antara
yang kaya dengan yang miskin karena kesenjangan yang terlalu dalam tidak
sesuai dengan syariah Islam yang menekankan bahwa sumber-sumber daya bukan
saja karunia dari Allah bagi semua manusia, melainkan juga merupakan suatu
amanah. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk mengkonsentrasikan
sumber-sumber daya di tangan segelintir orang.

Kurangnya program-program efektif untuk mereduksi kesenjangan sosial yang
terjadi selama ini dapat mengakibatkan kehancuran, bukan penguatan perasaan
persaudaraan yang hendak diciptakan ajaran Islam. Syariah Islam sangat
menekankan adanya suatu distribusi kekayaan dan pendapatan yang merata
sebagaimana yang tercantum dalam Surah Al Hasyr ayat 7, yakni “… kekayaan
itu tidak beredar di kalangan orang-orang kaya di antara kamu saja.”

Distribusi kekayaan dan pendapatan yang merata bukan berarti sama rata
sebagaimana faham kaum komunisme, tetapi ajaran Islam mewajibkan setiap
individu untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, dan sangat melarang
seseorang menjadi pengemis untuk menghidupi dirinya.

Dalam literatur Ekonomi Syariah, terdapat berbagai macam bentuk transaksi
kerjasama usaha, baik yang bersifat komersial maupun sosial, salah satu
berbentuk “qardh”. Qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat
ditagih atau diminta kembali tanpa mengharapkan imbalan atau dengan kata
lain merupakan sebuah transaksi pinjam meminjam tanpa syarat tambahan pada
saat pengembalian pinjaman. Dalam literatur fiqh klasik, qardh dikategorikan
dalam aqd tathawwui atau akad tolong menolong dan bukan transaksi komersial.

B. Konsep Dasar

1. Definisi al-Qardh
Secara umum pinjaman merupakan pengalihan hak milik harta atas harta. dimana pengalihan tersebut merupakan kaidah dari Qardh.

a. Pengertian Pinjaman Menurut Bahasa Arab
Qardh secara bahasa, bermakna Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang disodorkan kepada orang yang berhutang disebut Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang. Kemudian kata itu digunakan sebagai bahasa kiasan dalam keseharian yang berarti pinjam meminjam antar sesama. Salah seorang penyair berkata,
“Sesungguhnya orang kaya bersaudara dengan orang kaya, kemudian mereka saling meminjamkan, sedangkan orang miskin tidak memiliki saudara”

b. Pengertian Pinjaman Menurut Hukum Syara’
Secara syar’i para ahli fiqh mendefinisikan Qardh
1. Menurut pengikut Madzhab Hanafi , Ibn Abidin mengatakan bahwa suatu pinjaman adalah apa yang dimiliki satu orang lalu diberikan kepada yang lain kemudian dikembalikan dalam kepunyaannya dalam baik hati.
2. Menurut Madzhab Maliki mengatakan Qardh adalah Pembayaran dari sesuatu yang berharga untuk pembayaran kembali tidak berbeda atau setimpal.
3. Menurut Madzhab Hanbali Qardh adalah pembayaran uang ke seseorang siapa yang akan memperoleh manfaat dengan itu dan kembalian sesuai dengan padanannya.
4. Menurut Madzhab Syafi’i Qardh adalah Memindahkan kepemilikan sesuatu kepada seseorang, disajikan ia perlu membayar kembali kepadanya.

c. Definisi lain

Menurut Syafi’i Antonio (1999), qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharap imbalan. Menurut Bank Indonesia (1999), qardh adalah akad pinjaman dari bank (muqridh) kepada pihak tertentu (muqtaridh) yang wajib dikembalikan dengan jumlah yang sama sesuai pinjaman.

2. Aspek Syariah Al-Qardh
a. Al-Qur’an
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
(Al-Baqarah : 245)
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
(Al-Maidah : 2)

b. As-Sunnah
Dari Anas ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda :
“Pada malam peristiwa Isra’ aku melihat di pintu surga tertulis ’shadaqoh (akan diganti) dengan 10 kali lipat, sedangkan Qardh dengan 18 kali lipat, aku berkata : “Wahai jibril, mengapa Qardh lebih utama dari shadaqoh?’ ia menjawab “karena ketika meminta, peminta tersebut memiliki sesuatu, sementara ketika berutang, orang tersebut tidak berutang kecuali karena kebutuhan”.
(HR. Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abas bin Malik ra, Thabrani dan Baihaqi meriwayatkan hadits serupa dari Abu Umamah ra).

c. Ijma’
Secara ijma’ juga dinyatakan bahwa Qardh diperbolehkan.
Qardh bersifat mandub (dianjurkan) bagi muqridh (orang yang mengutangi) dan mubah bagi muqtaridh (orang yang berutang).

3. Hal yang diperbolehkan pada Qardh
Madzhab Hanafi berpendapat, Qardh dibenarkan pada harta yang memiliki kesepadanan, yaitu harta yang perbedaan nilainya tidak meyolok, seperti barang-barang yang ditakar, ditimbang, biji-bijian yang memiliki ukuran serupa seperti kelapa, telur. Tidak diperbolehkan melakukan qardh atas harta yang tidak memiliki kesepadanan, baik yang bernilai seperti binatang, kayu dan agrarian, dan harta biji-bijian yang memiliki perbedaan menyolok, karena tidak mungkin mengembalikan dengan semisalnya.

Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat, diperbolehkan melakukan qardh atas semua harta yang bisa diperjualbelikan objek salam, baik ditakar, atau ditimbang, seperti emas, perak dan makanan atau dari harta yang bernilai, seperti barang-barang dagangan, binatang dan sebagainya, seperti harta-harta, biji-bijian.

4. Hukum Qardh
Hak kepemilikan dalam Qardh menurut Abu Hanifah dan Muhammad – berlaku melalui Qabdh (penyerahan).

Jika seseorang berhutang satu mud gandum dan sudah terjadi qabdh, maka ia berhak menggunakan dan mengembalikan dengan semisalnya meskipun muqridh meminta pengembalian gandum itu sendiri, karena gandum itu bukan lagi miliki muqridh. Yang menjadi tanggung jawab muqtaridh adalah gandum yang semisalnya dan bukan gandum yang telah diutangnya, meskipun Qardh itu berlangsung.

Abu yusuf berkata : muqtaridh tidak memiliki harta yang menjadi objek Qardh selama Qardh itu berlangsung.

Mazhab hanafi berpendapat, Qardh dibenarkan pada harta yang memiliki kesepadanan, yaitu harta yang perbedaan nilainya tidak menyolok, seperti barang-barang yang ditakar, ditimbang, biji-bijian yang memiliki ukuran serupa seperti kelapa dan telur, dan yang diukur, seperti kain bahan. Di perbolehkan juga meng-qardh roti, baik dengan timbangan atau biji.
Mazhab Maliki, Syafi’I, dan Hambali berpendapat, diperbolehkan melakukan qardh atas semua harta yang bias dijualbelikan obyek salam, baik itu ditakar, ditimbang, seperti emas, perak dan makanan atau dari harta yang bernilai, seperti barang-barang dagangan, binatang dan sebagainya, seperti harta-harta biji-bijian, karena pada riwayat Abu Rafi’ disebutkan bahwa Rasulullah SAW berutang unta berusia masih muda, padahal untuk bukanlah harta yang ditakar atau ditimbang, dan karena yang menjadi obyek salam dapat di hakmiliki dengan jual beli dan ditentukan dengan pensifatan. Maka bisa menjadi obeyek qardh. Sebagaimana harta yang ditakar dan ditimbang.
Dari sini, menurut jumhur ahli fiqih, diperbolehkan melakukan qardh atas semua benda yang boleh diperjualbelikan kecuali manusia, dan tidak dibenarkan melakukan qardh atas manfaat/jasa, berbeda dengan pendapat Ibnu Taimiyah, seperti membantu memanen sehari dengan imbalan ia akan dibantu memenen sehari, atau menempoati rumah orang lain dengan imbalan orang tersebut menempati rumahnya.

5. Manfaat al-qardh

– Memungkinkan nasabah yang sedang dalam kesulitan mendesak untuk mendapat talangan jangka pendek.
– Al-qardh al-hasan juga merupakan salah satu ciri pembeda antara bank syariah dan bank konvensional yang didalamnya terkandung misi social, disamping misi komersial.
– Adanya misi kemasyarakatan ini akan meningkatkan citra baik dan meningkatkan loyalitasmasyarakatkepadabanksyariah.
– Risiko al-qardh terhitung tinggi karena ia di anggap pembiayaan yang tidak ditutup dengan jaminan.

Pinjaman yang baik
Dilihat dari definisi diatas, maka pinjaman dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pinjaman seorang hamba untuk Tuhan-Nya dan pinjaman seorang muslim untuk saudaranya.

a. Pinjaman seorang hamba untuk Tuhan-Nya

Yaitu apa yang diberikan oleh seorang muslim untuk membantu saudaranya tanpa mengharap kembalinya barang tersebut karena semata-mata untuk mengharapkan balasan di akhirat nanti. Hal ini mencakup infaq untuk berjihad, infaq untuk anak-anak yatim, infaq untuk orang-orang jompo, dan infaq untuk orang-orang miskin. Jenis ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan kata ‘al-qardh’, sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT

“Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Q.S Al-Baqarah : 244)

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
(Q.S Al-Baqarah : 245)
Sebagaimana yang kita lihat ayat diatas, jelaslah bahwa pinjaman yang dimaksud disini berbeda dengan apa yang sering kita lihat didalam kehidupan bermasyarakat, yang mana seseorang meminjam dari temannya karena didorong oleh adanya suatu kebutuhan. Karena pinjaman yang dimaksud dalam ayat ini sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.

b. Pinjaman seorang hamba untuk saudaranya

Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan masalah ini.Madzhab Abu Hanifah berkata, “Pinjaman yang diperbolehkan adalah sesuatu yang mempunyai persamaan yang mungkin dapat digantikan dengan sesuatu yang seruoa, akan tetapi menyangkut barang-barang bernilai seperti hewan, property, kayu bakar dan segala sesuatu yang tidak mungkin ditemukan barang yang serupa dan persis dengannya waktu pengembalian barang pinjaman tersebut, maka tidak boleh dipinjamkan. Karena menurut golongan ini, bahwa pinjam meminjam dengan sesuatu yang tidak dapat digantikan dengan yang serupa tidak diperbolehkan.

Madzhab Imam Malik menambahkan definisi ini dengan beberapa point berikut :

• Hendaklah barang yang dipinjamkan mempunyai nilai jual, dengan begitu tidak dibenarkan meminjamkan sepotong api.
• Orang yang meminjam harus mengembalikan barang pinjamannya.
• Pengembalian pinjaman hendaklah diberikan sesudah menerima pinjamannya.
• Hendaklah orang yang memberikan pinjaman tersebut berniat untuk memberikan manfaat kepada orang yang meminjam saja, dan tidak berniat untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun untuk mendapatkan keuntungan bersama.
• Tidak boleh meminjamkan alat fital seorang sahaya perempuan kepada seseorang untuk dimanfaatkan
• Hendaklah orang yang meminjam sesuatu harus menjamin bahwa ia akan mengembalikan pinjamannya, sehingga dalam hal ini masjid dan madrasah tidak bisa dipinjamkan.

Setelah kita memberikan pinjaman kepada seseorang (saudaranya), hendaklah pinjaman tersebut mengandung unsur kebaikan, begitu juga apabila pinjaman tersebut telah jatuh tempo.

Ber-ihsan dalam menagih hutang (Qardh), adakalanya dilakukan dengan menganggapnya lunas, semua maupun sebagiannya, atau dengan mengundurkan waktu pembayaran tersebut yang telah jatuh tempo, ataupun dengan mengurangi pelbagai persyaratan pembayaran yang telah memberatkan. Semua itu sangat dianjurkan, Sebagaimana dalam Sabda Nabi SAW :

“Rahmat Allah tercurah atas siapa-siapa yang’mudah’ dalam membeli, ‘mudah’ dalam menjual, ‘mudah dalam membayar dan ‘mudah’ dalam menagih”
Rasulullah SAW, juga pernah menyebutkan tentang seorang laki-laki yang masa lalunya penuh dengan perbuatan dosa, yang ketika dihisab, ternyata tidak memiliki cacatan amal kebaikan yang pernah ia lakukan.

Maka ditanyakan kepadanya, “Apakah anda tidak pernah melakukan kebaikan apapun ? “Tidak, “jawabnya. “Tetapi saya dahulu adalah seorang pemberi hutang, dan senantiasa mengingatkan kepada para pegawai saya : ‘Perlakukanlah yang mampu diantara para penghutang dengan perlakuan yang baik, dan undurkanlah waktu pembayaran bagi yang dalam kesusahan’. (Dalam versi lain : ‘….dan maafkanlah (yakni anggaplah hutangnya lunas) bagi yang dalam kesusahan’). Lalu Allah SWT pun menghapus dosa-dosanya dan mengampuninya.

Seandainya semua masyarakat mengetahui hal demikian, tidak akan terjadi hal-hal yang dapat mengakibatkan seseorang (pemilik harta) berbuat zhalim kepada orang yang membutuhkan bantuan. Apalagi ditengah kondisi krisis sekarang ini. Dimana, kita sebagai orang yang memiliki kelebihan harta hendaklah menolong saudara-saudara kita yang telah dilanda kesusahan dengan memberikan bantuan berupa pinjaman yang ihsan, bahkan tidak sekadar itu dapat memberikan Qardhul Hasan (menginfakkan, mensedeqahkan sebagaian hartanya tanpa mengaharapkan imbalan seperserpun tetapi hanya mengharap ridha Allah SWT). Tetapi kalau hanya memikirkan kehidupan duniawi manusia takluput akan kerakusan harta, yang diingat hanyalah berapa besar kelebihan dari kembalian harta yang telah dipinjamkan.

Pinjaman Berbunga

Bahwa pinjaman yang berbunga adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, ijma’. Keharaman itu meliputi segala macam bunga yang dijadikan syarat oleh orang yang memberi pinjaman kepada si peminjam. Karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan menolongnya. Tujuannya bukan mencari kompensasi atau keuntungan. Oleh sebab itu, pinjaman semacam itu diserupakan dengan bantuan keuangan. Seolah-olah orang yang meminjamkan uang itu, mengambil kembali uang tersebut. Namun, yang diambil kembali bukan uang yang dipinjamkan, tetapi senilai dengan uang tersebut. Berarti derajatnya sama dengan orang yang meminjami fasilitas uangnya kemudian mengambil kembali uangnya. Dengan dasar itu, berarti pinjaman berbunga yang diterapkan oleh bank-bank maupun rentenir dimasa sekarang ini jelas-jelas merupakan riba yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. sehingga bisa terkena ancaman keras baik didunia maupun diakhirat dari Allah SWT.
Jenis-jenis pinjaman yang mengandung riba

1. Pinjaman Konsumtif
Pinjaman-pinjaman semacam ini dilakukan oleh orang-orang yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Pinjaman jenis ini amat biasa di kalangan orang-orang miskin dan menengah, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang, seperti terjadi di Indonesia sejak dilanda krisis multidimensi salah satu diantara krisis moneter, dimana terjadi kenaikan pada semua harga barang, akibatnya masyarakat kesusahan untuk membutuhkan barang tersebut karena nilai mata uang yang menurun disamping itu juga pendapatan masyarakat yang cenderung tidak meningkat. Sebagian besar orang mengambil pinjaman ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, sebagian besar dari pendapatan mereka diambil alih oleh pemilik modal dalam bentuk bunga. Jutaan manusia di negara-negara yang sedang berkembang menggunakan seluruh hidupnya untuk membayar utang yang diwariskan kepada mereka. Upah dan gaji mereka sangat rendah sehingga setelah membayar bunga, sangat sedikit yang tersisa untuk menjadikan mereka mampu mendapatkan satu dua piring makanan setiap hari.

Pembayaran angsuran bunga yang berat secara terus menerus ini telah merendahkan standard kehidupan dan pendidikan anak-anak mereka. Disamping itu, kecemasan yang terus menerus rupanya mempengaruhi efisiensi kerja mereka yang pada akhirnya akan memperlemah perekenomian negara mereka.

Selanjutnya, pembayaran bunga telah mengurangi (menurunkan) daya beli di kalangan mereka. Oleh karena itu, industri yang memenuhi permintaan golongan miskin dan menengah akan memperoleh kesan akan rendahnya permintaan pada kalangan tersebut. Dan secara berangsur-angsur tetapi dengan pasti, hal ini akan menurunkan pembangunan industri serta menghambat kemajuan masyarakat.
1. Pinjaman Produktif
Pinjaman ini dilakukan oleh para pedagang, industrialis dan para petani untuk tujuan-tujuan yang produktif termasuk dalam kategori peminjam jenis ini. Kapitalis, dengan malapraktek mereka, telah menimbulkan banyak kesengsaraan dengan memungut bunga dari para peminjam, begitu juga terhadap masyarakat. Beberapa pengaruh buruk akibat sifat tamak mereka dinyatakan sebagai berikut :

i. Sebagian besat modal masyarakat dibiarkan mandul dan tidak digunakan hanya karena dipegang kalangan kapitalis yang mengharapkan kenaikan tingkat bunga. Bahkan meskipun banyak usaha-usaha yang bermanfaat dan permintaan akan modal tinggi, dipasaran, kapitalis tidak akan melepaskan modalnya begitu saja untuk memperoleh bunga yang lebih tinggi lagi.

ii. Sikap tamak untuk menaikkan bunga yang lebih tinggi yang menyebabkan tidak mengalirnya modal ke tangan pedagang dan industri sesuai dengan sifat dan permintaan yang sesungguhnya. Kaum kapitalis telah menarik dana meraka dari pasar modal dengan mengenakan bunga sesuai dengan yang mereka inginkan.
iii. Malapraktek ini menambahkan jesan lebih buruj terhadap perputaran perdagangan yang sering terjadi secara periodic di kalangan masyarakat kapitalis modern dan sangat mempengaruhi kehancuran ekonomi.
iv. Modal tidak diinvestasikan pada berbagai usaha-usaha yang penting dan bermanfaat bagi masyarakat tetap digunakan untuk usaha-usaha yang begitu menguntungkan masyarakat.
v. Pada umumnya kaum kapitalis memberikan pinjaman berjangka panjang untuk perdagangan dan industri karena semakin tinggi keuntungan pada bisnis spekulatif dan mengaharpakan meningginya bunga dimasa yang akan datang. Perilaku kapitalis semacam ini, yang diakibatkan dari adanya bunga, merupakan hambatan dalam pembangunan industri, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.

Selain itu, bunga tetap untuk jangka panjang itu sendiri merupakan kejahatan besar yang kadang-kadang, jika keuntungan usaha rendah, menghancurkan perusahaan yang bekerja dan berkembang maju.
1. Pinjaman Pemerintah
Pinjaman pemerintah ada dua macam. Pinjaman yang diperoleh dari dalam negeri dan pinjaman yang diperoleh dari luar negeri itu sendiri.

i. Pinjaman yang diperoleh dari dalam negeri. Pinjaman ini tidak seproduktif pinjaman untuk mendirikan usaha-usaha seperti membangun seluruh air, jalan kereta api, membangun listrik tenaga air dan sebagainya.

Dalam pinjaman tidak produktif, yang digunakan untuk keperliuan-keperluan mendesak, dan keadaan-keadaan lain, seperti kelaparan, gempa bumi dan sebagainya, kedudukannya kurang lebih sama dengan pinjaman perorangan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sesungguhnya kedudukan kapitalis dalam pinjaman semacam ini lebih buruk daripada memberikan pinjaman perorangan.

Kaum kapitalis seperti halnya orang yang tidak tahu bersyukur dan mementingkan dirinya sendiri sehingga ia memungut bunga dari pemerintah, yang telah memberikan perlindungan kepadanya, dan memberikan kesempatan kepadanya kedudukan yang mereka nikmati. Apabila moral tidak digunakan untuk usaha-usaha yang dapat mendatangkan keuntungan tetapi digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, maka ini sama halnya berguna bagi kaum kapitalis itu sendiri, sehingga dasar untuk menarik bunga tidak dapat dianggap adil.

Keadaan akan menjadi lebih buruk dan tidak dapat dimaafkan apabila negara itu sedang berjuang untuk mensejahterakan rakyatnya dan berjuang dalam memerangi musuhnya yang mengancam kehidupan dan hak milik negara itu. Seluruh masyarkat mengorbankan harta dan hidupnya untuk mempertahankan keberadaan bangsa, sebaliknya kaum kapitalis yang mementingkan individu memungut uang berupa bunga, dari pinjaman. Mereka tidak bersedia memberikan sedikitpun dari uang pungutan bunganya, sedangkan anggota masyarakat yang lain memberikan (mempertaruhkan) kehidupan anak-anaknya, saudaranya, bahkan seluruh anggota keluarganya demi untuk melindungi kehormatan dan negaranya.

Bagaimana dikatakan adil dan bijaksana dengan memberikan suapan kepada kaum kapitalis berupa bunga, sedangkan masyarakat yang lainnya dalam keadaan menderita, sampai sekarang belum terjawab oleh para pelopor teori ini. karena dari praktik bunga mendatangkan kejahatan diantaranya ; pertama, keberadaan suku bunga yang tinggi dapat menghancurkan dorongan untuk melakukan investasi. Karena itu tingkat investasi akan menurun dan pada gilirannya tingkat lapangan pekerjaan dan national income (pendapatan nasional) akan mengalami penurunan. Akibat menurunnya jumlah pendapatan keseluruhan maka akan

Kedua, sesungguhnya konsep bunga berdampak terhadap konsumsi, dan kemungkinan juga mengalami penurunan.beroperasi dengan suatu cara yang lebih kompleks sehingga dapat mengacaukan kondisi perekonomian. Bagi orang yang memiliki uang akan menginvestasikan atau mendepositokan uang tersebut, baik dideposito di bank-bank, investasi dipasar modal dan lain sebagainya. Orientasi deposito dan investasi tersebut bersifat spekulatif artinya hanya mengharapkan keuntungan belaka tanpa adanya risiko yang akan ditanggung sehingga mendapatkan return (tambahan) yang tinggi karena hal ini bersifat mutlak dan pasti akan terjadi.

Semua beban bunga bunga baik itu pinjaman produktif maupun yang tidak produktif (konsumtif) akan ditanggap oleh golongan pembayar pajak yang miskin baik itu melalui pembayaran pajak secara langsung maupun tidak langsung. Terdapat jutaan rakyat yang menderita kemiskinan yang tidak mampu untuk memenuhi bahkan kehidupan pokok hidupnya tetapi harus membayar beban bunga kepada kaum kapitalis.

ii. Pinjaman Pemerintah dari luar. Pinjaman ini mempunyai keburukan baik yang dimiliki pada keburukan pinjaman perorangan maupun pinjaman nasional, baik pinjaman ini digunakan untuk usaha-usaha yang produktif maupun usaha yang tidak produktif atau konsumtif.

Disamping itu, pinjaman ini mempunyai aspek lain yang penting dan berbahaya. Pinjaman ini dapat menghancurkan perekonomian dalam negeri dan juga dapat menimbulkan pertikaian dunia internasional. Beban utang yang amat berat tidak jarang bukan saja benih kebencian dan rasa dendam antar bangsa yang sering kali berakibat peperangan.

Utang luar negeri juga dapat membahayakan keamanan dan keselamatan bangsa yang baru saja merdeka, yang belum cukup kuat secara financial dan politis untuk berdiri diatas kaki sendiri. karena adanya konsep bunga yang diterapkan sehingga dapat menghancurkan kekayaan nasional. Hal ini sering di alami negara-negara kapitalis dimana para produsen harus memusnahkan barang-barang yang sudah jadi dalam jumlah yang besar untuk menyelamatkan harga agar tidak jatuh di bawah harga produksi marginal. Ini jelas merupakan kerugian nasional, dimana jutaan orang kekeurangan makanan dan keperluan-keperluan lainnya disebabkan kekurangan daya beli, sebenarnya hal itu dapat dihindari dengan penghapusan bunga.

C. Aplikasi Qardh

Pinjaman qardh biasanya diberikan oleh bank kepada nasabahnya sebagai fasilitas pinjaman talangan pada saat nasabah mengalami overdraft. Fasilitas ini dapat merupakan bagian dari satu paket pembiayaan lain, untuk memudahkan nasabah bertransaksi. Aplikasi qardh dalam perbankan ada empat hal:

a.Sebagai pinjaman talangan haji
b.Sebagai pinjaman tunai dari produk kartu kredit syariah
c.Sebagai pinjaman kepada pengusaha kecil
d Sebagai pinjaman kepada pengurus bank

1. Rukun dan Syarat
1. Rukun :
– Muqridh (pemilik barang)
– Muqtaridh (yang mendapat barang atau peminjam)
– Ijab qobul
– Qardh (barang yang dipinjamkan)

2. Syarat sah qardh :
– Qardh atau barang yang dipinjamkan harus barang yang memiliki manfaat, tidak sah jika tidak ada kemungkinan pemanfaatan karena qardh adalah akad terhadap harta.
– Akad qardh tidak dapat terlaksana kecuali dengan ijab dan qobul seperti halnya dalam jual beli.

2. Sumber dana

Sifat qardh tidak memberikan keuntungan finansial. Karena itu, pendanaan qardh dapat diambil menurut kategori berikut:
a. Al-qardh yang diperlukan untuk membantu usaha sangat kecil dan keperluan social, dapat bersumber dari dana zakat, infaq, dan sedekah.
b. Al-qardh yang diperlukan untuk membantu keuangan nasabah secara cepat dan berjangka panjang. Talangan dana di atas dapat diambilakan dari modal bank.

3. Skema Al-Qardh

4. PERSYARATAN PEMBIAYAAN

PERSYARATAN PEMBIAYAAN

Keterangan Konsumtif Produktif

Pegawai Wirausaha Badan Usaha Perorangan

Identitas diri dan pasangan v v – v

Kartu keluarga dan surat nikah v v – v

Slip gaji 2 bulan terakhir v – – –

SK Pengangkatan terakhir v – – –

Copy rekening bank 3 bulan terakhir v – – –

Akte pendirian usaha – – v –

Identitas pengurus – – v –

Legalitas usaha – v v v

Laporan keuangan 2 tahun terakhir – v v v

Past performance 2 tahun terakhir – v v v

Rencana usaha 12 bulan yang akan datangs – v v V

Data obyek pembiayaan v v v V

Penutup
D. Permasalahan dalam Qardh

Risiko dalam qardh terhitung tinggi karena ia dianggap pembiayaan yang tidak ditutup dengan jaminan. Bahkan produk yang tertinggi tingkat resikonya adalah Qardh (pinjaman tanpa bagi hasil) dapat diberikan. Pada tingkat ini nasabah telah mencapai taraf prima (prime customer) karena tanpa jaminan dan tanpa kewajiban memberikan tambahan, bank dapat memberikan pinjaman. Biasanya diberikan untuk kebutuhan mendesak, berjangka waktu relatif pendek, tidak bisa dilayani oleh produk lain dan kemungkinan besar tidak akan macet.

E. Solusi untuk Mengatasi Permasalahan dalam Qardh

Pengungkapan dan pengakuan pinjaman qardh harus menjelaskan:
1. rincian jumlah pinjaman qardh berdasarkan sumber dana, jenis penggunaan dan sektor ekonomi;
2. jumlah pinjaman qardh yang diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa;
3. kebijakan manajemen dalam pelaksanaan pengendalian risiko pinjaman qardh; dan
4. khtisar pinjaman qardh yang dihapus buku yang menunjukan saldo awal, penghapusan selama tahun berjalan, penerimaan atas pinjaman qardh yang telah dihapusbukukan dan pinjaman qardh yang dihapustagih dan saldo akhir pinjaman qardh yang dihapus buku.

F. Penutup

Pengembangan produk bukan saja melibatkan sumber daya yang ada dalam penelitian dan pengembangan, tetapi juga sumber daya yang mengerti dan mendalami syariah, karena sumber daya manusia yang ada di bank syariah sekarang ini belum memiliki pengetahuan di kedua bidang itu secara simultan. Untuk itu Perlu dikembangkan sejak dini penggabungan pendidikan ilmu duniawi dan ilmu agama sejak dini sekali dan ini harus dilanjutkan ke tingkat berikutnya bahkan sampai tingkat perguruan tinggi, sehingga dikotomi pengetahuan agama dan pengetahuan dunia lama-kelamaan akan menipis. Ini bukan tugas perbankan syariah semata, tapi tugas ummat Islam secara nasional.Perlu adanya usaha terus menerus mengembangkan teknis keuangan untuk memberikan alternatif bagi perbankan syariah terhadap produk keuangan di dunia konvensional. Rujukan (benchmark) keuangan merupakan contoh yang paling jelas dalam hal ini.

DAFTAR PUSTAKA
Antonio Syafi’I. Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktek, Jakarta: Gema Insani, 2001
Antonio Syafi’I. Bank Syariah, PT Ekonisia, Yogyakarta; 2006
Karim Adiwarman. Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta : KBC, 2005
Mervyn K.Lewis dan latifa M.Algaoud. Perbankan Syariah : Prinsip, Praktik, dan Prospek, Jakarta: Serambi, 2007
http://luqmannomic.wordpress.com/2008/12/21/qardh/
http://punyahari.blogspot.com/2009/12/aplikasi-ekonomi-syariah-terakhir-qardh.html
http://www.bi.go.id/web/id/Peraturan/Perbankan/se_103508.htm
http://www.syariahmandiri.co.id/produkdanjasa/pembiayaan/persyaratanpembiayaan.php
Sjahdeini Sutan Reny. Perbankan Syariah, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta: 2007


Aksi

Information

One response

21 08 2010
Nuynunur's Blog

[…]  Al-Qardh […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: