MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

31 01 2010

Ucapan selamat dalam tradisi Islam bukanlah hal yang aneh ataupun baru, karena sejak zaman Rasulullah saw tradisi semacam itu sudah ada. Momen dan kesempatan serta susunan ungkapan dimana ucapan selamat itu disampaikan juga berbeda-beda. Pernah pada suatu saat, menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, Rasulullah saw mengungkapkan ucapan selamat kepada para sahabatnya seraya berkata, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Pada saat itu diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa. Pada saat itu pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih utama dari pada seribu bulan. Barang siapa yang menghormatinya maka dia akan mendapatkan banyak kebaikan” (HR. Ahmad dan Nasa’i).
Meskipun tidak secara eksplisit terucap perkataan “Selamat berpuasa”, namun tidak dapat dipungkiri bahwa perkataan Rasulullah saw tersebut di atas mengandung ucapan selamat. Karena konteksnya sudah sangat jelas, yaitu menyampaikan ekspresi kebahagiaan dan kesenangan kepada orang lain; ikut merasa bahagia atas kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain. Secara umum, menurut Syekh Ảthiyah Shaqar, “Tidak ada larangan untuk saling mengucapakan selamat kepada sesama, selama dalam konteks membahagiakan orang lain, atau turut senang dan bahagia atas kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain”.
Sementara itu kata natal, meskipun arti sebenarnya adalah lahir atau kelahiran, sebagaimana yang lazim digunakan dalam istilah Ilmu Jiwa Perkembangan; “pre-natal dan post-natal”, namun kata ini identik dengan sebuah peringatan yang biasa dirayakan oleh kaum Kristiani dalam rangka memperingati kelahiran Yesus. Yaitu peringatan yang diselenggarakan pada setiap tanggal 25 Desember. Sehingga ketika kata natal diucapkan maka yang tergambar dalam pikiran adalah perayaan dalam rangka memperingati kelahiran Yesus Kristus.
Berbicara mengenai kelahiran Yesus ternyata tidak ada kejelasan sejarah (berdasarkan Bibel; Injil) yang dapat dijadikan pegangan. Sebab antara Injil yang satu dengan yang lain memberi informasi yang berbeda (lihat Lukas 2: 1,8 dan Matius 2: 1, 10, 11). Sedangkan penetapan tanggal 25 Desember adalah berdasarkan ketentuan kaisar Konstantin, bukan atas dasar bukti sejarah. Sayangnya, tidak banyak orang Kristen yang mengetahui dan memahami hal ini.
Dalam perjalanan sejarah hubungan antar umat beragama di Indonesia, antara umat Islam dengan umat agama lain sudah terjalin hubungan yang cukup baik, khususnya dalam aspek kehidupan sosial beragama. Dimana kehidupan saling menghormati dan saling menghargai dapat disaksikan di beberapa daerah dimana umat Islam hidup berdampingan dengan umat agama lain. Hanya saja semuanya itu berlangsung atas dasar kebiasaan, tradisi dan etika. Tidak berdasarkan atas pengetahuan yang obyektif terhadap agamanya atau keimanan yang benar atas keyakinannya. Sehingga masih sering terjadi, khususnya di kalangan masyarakat pedesaan yang awam, tumpang tindih tradisi keagamaan. Hal semacam ini tidak boleh terus menerus terjadi dan dibiarkan. Identitas keagamaan, meskipun tanpa harus mengedepankan simbol-simbolnya, seyogyanya ditunjukkan secara tegas, agar sikap saling menghormati yang selama ini sudah dibangun dapat berlangsung lebih obyektif dan berwibawa.
Dalam konteks perayaan Natal apa yang tampaknya harus secara tegas dijelaskan kepada umat Islam adalah bahwa, pertama, perayaan ini adalah bagian dari aqidah orang-orang Kristen, dan mereka mengimani bahwa pada hari itu Tuhan mereka (Yesus) dilahirkan. Kedua, atas dasar itu maka sesungguhnya keyakinan tersebut tidak sejalan dengan aqidah Islam. Dan, oleh karenanya (ditinjau dari aspek apapun; historis, sosiologis dan sebagainya) maka tidak ada kelaziman bagi umat Islam untuk ikut merayakan hari tersebut, sekalipun hanya dalam prosesi perayaan bersama. Hal ini sesuai dengan fatwa MUI yang dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1981 tentang Natal, “Orang muslim haram menghadiri acara natal yang diselenggarakan kaum Nasrani” (Harry Muhammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad ke 20, 2006). Ketiga, masalah aqidah dan keimanan tidak termasuk dalam ranah toleransi dan kerukunan. Artinya, jangan sampai karena beralasan demi kerukunan beragama dan toleransi agama aqidah sebuah agama menjadi bias dan tidak jelas. Sebab jika itu yang terjadi maka semua orang akan tidak mengenal agamanya secara benar, sehingga pada gilirannya nanti mereka akan merasa tidak berkepentingan dengan adanya agama. Namun jika aspek kerukunan dan toleransi harus tetap menjadi unsur terpenting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis maka kerangka yang harus digunakan adalah “…. Lâ a’budu mâ ta’budŭn, wa lâ antum ‘âbidŭna mâ a’bud, wa lâ ana ‘âbidun mâ ‘abadtum, wa lâ antum ‘âbidŭna mâ a’bud, Lakum dînukum wa liya dîn.” (QS. Al Kâfirŭn : 2-6)
Adapun mengenai ucapan “Selamat Natal” yang terkadang disampaikan oleh seorang muslim kepada seorang nasrani, dapat dijelaskan dengan terlebih dahulu memahami subtansi sebuah ucapan selamat. Dalam hal ini, sebagaimana disebutkan di atas, tidak ada larangan untuk memberikan ucapan selamat sepanjang maksud dan tujuannya adalah membuat orang lain senang dan bahagia (idkhâl al surûr), membuat orang lain tersanjung. Sehingga jika ada yang menyimpulkan bahwa dengan mengucapkan selamat natal seorang muslim telah memberikan pembenaran terhadap keyakinan seorang Nasrani maka dapat ditegaskan bahwa tujuan utama (niat)-nya bukan itu. Lain dari pada itu, tidak seyogyanya seorang muslim merasa ‘tidak enak’ jika harus tidak mengucapkan selamat natal kepada tetangganya yang Nasrani. Wallahu a’lam !


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: