SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT SAINS

20 01 2010

Masyarakat primitif menganut pemikiran
mitosentris yang mengandalkan mitos guna menjelaskan fenomena alam. Perubahan

pola pikir dari mitosentris menjadi logo-sentris membuat manusia bisa
membedakan kondisi riil dan ilusi, sehingga mampu ke-luar dari mitologi dan
memperoleh dasar pengetahuan ilmiah. Ini adalah titik awal ma-nusia menggunakan
rasio untuk meneliti serta mempertanyakan dirinya dan alam raya.
1.
Filsafat kuno dan abad pertengahan
Di masa ini, pertanyaan tentang asal usul
alam mulai dijawab dengan pendekat-an rasional, tidak dengan mitos. Subjek
(manusia) mulai mengambil jarak dari objek (alam) sehingga kerja logika (akal
pikiran) mulai dominan. Sebelum era
Socrates, kaji-an difokuskan pada alam yang berlandaskan spekulasi metafisik. Menurut
Heraklitos (535-475 SM), realita di alam selalu berubah, tidak ada yang tetap
(api sebagai simbol perubahan di alam) sementara Parmenides (515-440 SM)
mengatakan bahwa realita di alam merupakan satu kesatuan yang tidak bergerak
sehingga perubahan tidak mungkin terjadi.
Pada era Socrates, kajian filosofis mulai
menjurus pada manusia dan mulai ada pemikiran bahwa tidak ada kebenaran yang
absolut. Beberapa filosof populernya adalah Socrates (479-399 SM), Plato
(427-437 SM) dan Aristotles (384-322 SM).
Socrates mendefinisikan, menganalisis dan mensintesa kebenaran objektif
yang universal melalui metode dialog
(dialektika). Satu pertanyaan dijawab dengan satu jawaban. Plato mengembangkan konsep dualisme (adanya bentuk dan persepsi). Ide yang ditangkap oleh pikiran (persepsi)
lebih nyata dari objek material (bentuk) yang dilihat indra. Sifat persepsi tidak tetap dan bisa berubah,
sementara bentuk adalah sesuatu yang tetap. Aris-totles menyatakan bahwa materi
tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Fil-suf ini juga memperkenalkan
silogisme, yaitu penggunaan logika
berdasarkan analisis bahasa guna menarik kesimpulan. Silogisme memiliki dua
premis mayor dan satu ke-simpulan sehingga, suatu pernyataan benar harus sesuai
dengan minimal dua pernyataan pendukung. Logika ini disebut juga dengan logika deduktif yang mengukur valid tidak-nya
sebuah pemikiran.
Pada abad pertengahan (abad 12–13 SM) mulai
dilakukan analisis rasional terha-dap sifat-sifat alam dan Allah, analisis
suatu kejadian/materi, bentuk, ketidaknampakan, logika dan bahasa. Salah satu
filsufnya adalah Thomas Aquinas (1225-1274).
2.
Filsafat modern (abad 15 – sekarang)
Berkembang beberapa paham yang menguatkan
kedudukan humanisme sebagai dasar dalam perkembangan hidup manusia dan
pengetahuan. Paham rasionalisme me-nyatakan bahwa akal merupakan alat
terpenting untuk memperoleh dan menguji penge-tahuan. Kedaulatan rasio diakui
sepenuhnya dengan menyisihkan pengetahuan indra. Menurut Rene Descartes (paham
rasionalisme dan skeptisme), pengetahuan yang benar harus berangkat dari
kepastian. Untuk memastikan kebenaran sesuatu, segala sesuatu harus diragukan
terlebih dahulu. Keragu-raguan membuat manusia bertanya/mencari ja-waban untuk
memperoleh kebenaran yang pasti (manusia harus berpikir rasional untuk mencapai
kebenaran).
Pada paham empirisme, segala sesuatu yang
ada dalam pikiran didahului oleh pengalaman indrawi. Pengetahuan dikembangkan dari pengalaman indra
secara konkrit dan bukan dari rasio. Menurut
John Locke (empirisme dan naturalisme), pikiran awal-nya kosong. Isi pikiran (ide)
berasal dari pengalaman indrawi (lahiriah dan batiniah) ter-hadap substansi
(benda) di alam. David Hume (skeptisme dan empirisme) mengatakan ide atau
konsep didalam pikiran berasal dari persepsi (kesan terhadap pengalaman indra-wi)
dan gagasan (konsep makna dari kesan) terhadap suatu substansi, bukan dari substansinya.
Sementara menurut Francis Bacon, pengetahuan merupakan kekuatan un-tuk
menguasai alam. Pengetahuan diperoleh
dengan metode induksi melalui eksperi-men dan observasi terhadap suatu fenomena
yang ingin dikaji. Paham lainnya adalah
idealisme yang dianut Barkeley: ada disebabkan oleh adanya persepsi; dan paham
idealisme – kritisisme yang dikembangkan Imanuel Kant. Menurut Kant, hakikat
fisik adalah jiwa (spirit) dan pengetahuan adalah hasil pemikiran yang dihubungkan
dengan pengalaman indrawi. Paham ini menggabungkan konsep rasionalisme dengan
empiris-me. Paham positive-empiris
(Aguste Comte) menyatakan bahwa realita berjalan sesuai dengan hukum alam
sehingga pernyataan pengetahuan harus bisa diamati, diulang, diu-kur, diuji dan
diramalkan. Sementara paham pragmatisme William James menyatakan kebenaran
suatu pernyataan diukur dari kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat
fungsional (bermanfaat) dalam kehidupan praktis. Pernyataan dianggap benar jika kon-sekuensi
dari pernyataan tersebut memiliki kegunaan praktis bagi manusia.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: