Memaknai di balik Sejarah Tasawuf

20 01 2010

Prakata

Agama sepanjang sejarahnya tidak pernah terlepas dari pembahasan akan ketuhanan. Tuhan dalam pembahasannya ini terwujud dalam ajaran tauhid, yakni bahwa Tuhan adalah Esa, Tuhan yang mutlak sebagai Penguasa. Maka jika kita mengkaji lebih lanjut, semua ajaran-ajaran samawi yang dibawa oleh para rasul akan berinti pada pokok ajaran yang sama, yakni ajaran tauhid.

Tauhid merupakan puncak kesadaran, di mana manusia sebagai makhluk akan mempunyai totalitas prinsip akan Tuhan yang Esa. Dalam hal lain, tauhid menjadi sebuah “kesadaran eksistensial” bahwa tidak ada segala sesuatu apapun kecuali Tuhan (la ilaha illa Allah). Semua terwujud karena kehendakNya. Implikasi tersebut memunculkan kesadaran baru akan realitas yang ada, yakni hanyalah merupakan pancaran (tajalliyat) akan Wujud Mutlak. Pandangan ini diperkenalkan oleh ajaran mistisisme. Secara yang mengedepankan intuisi sebagai pijakan sumber pengetahuan, maka kebenaran dipijakkan pada tolak ukur intuitif.

Tauhid jelas menjadi dasar tolak ukur keimanan, karena manusia selalu mempunyai kesadaran baru yang dirinya selalu tergugah untuk mangejar. Maka puncak keberagamaan bermuara pada ma’rifat Ilahi bagi jiwa manusia. Namun Tuhan juga harus mengajarkan kepada manusia akan segala aspek ketauhidan. Di sinilah penting bagi diriNya menghadirkan representator yang kemudian menjadi penafsir mutlak ajaranNya, itu jika ditinjau melalui kajian teologis. Namun melalui tasawuf, keberadaan acceptor sudah mutlak adanya sebagai media penghubung antara manusia dengan diriNya. Tauhid bukan terbatas pada ajaran, tetapi melalui penghubung yang mempunyai wilayah di semesta alam agar Tuhan dapat dapat lebih akrab berhubungan dengan manusia.

Mistisisme atau ‘Irfan yang secara etimologis berasal dari mashdar ‘arafa ya’rifu, berarti mengetahui, maka ‘Irfan dalam hal ini merupakan pengetahuan tentang ketuhanan. Pengetahuan yang pada dasarnya diperoleh langsung dari Tuhan, seperti konsep pengetahuan hudhuri dalam pengklasifikasian ilmu pengetahuan. Bermula dari pengetahuan subjektif manusia, maka mistisisme atau Irfan atau lebih dikenal dengan tashawwuf -meskipun penamaannya agak rancu disebabkan penamaannya yang menegedepankan kajian fenomenologi historis- bersifat aposteriorii. Secara epistemologis bagian ini ditemukan, mengingat proses yang berbeda antara yang satu dengan yang lain dalam pencapaiannya.

Sejarah tasawuf, dalam perkembangannya mengalami banyak pereduksian yang menjadikan momoknya terbatas pada ritual dan gaya hidup yang terkenal asketis. Kehidupannya penuh akan kejumudan, terutama dalam perkembangan pemikirannya, meskipun hanyalah sebagian kecil saja. Sementara di sisi lain, proses tasawuf yang demonstratif dan filosofis acap kali terabaikan. Awal kali dimana tradisi Irfan atau tasawuf falsafi, yang diusung oleh Ibn Arabi, adalah sesuatu yang ambigu untuk dibicarakan. Pengetahuan-pengetahuan yang didapat saat penyingkapan-penyingkapan ataupun syahadah hanya menjadi pengalaman pribadi yang menjadi misteri. Namun saat kehadirannya, Ia mengubah paradigma yang terkesan kering menjadi berbobot. Tashawuf yang di argumentasikan secara demonstratif, perlahan mendapat nafas segar setelah keberadaannya yang selalu disalah pahami. Hal ini menjadi wajar ketika paham tashawuf yang selalu bertentangan dengan syari’at yang mayoritas adalah agamawan. Maka sewajarnya, penting untuk mengetahui tasawuf secara maknawi sehingga apa yang menjadi keraguan tidak menjadi pertentangan.

Konektifitas khalik dan makhluk

Jika berbicara tentang Tuhan, maka tidak mungkin cukup untuk dapat menjelaskan sebuah Realitas Tertinggi, yang di mana menjadi Teosentris bagi semesta. Keagungannya sebagai Pencipta (khalik) atau sebagai Pengatur kehidupan (rabb). Ia juga tidak saja sebagai satu-satunya realitas yang tertinggi namun juga satu-satunya Wujud yang pantas disebut “wujud” dalan arti kata seutuhnya. Realitas dengan huruf besar, dimana tak satupun realitas di dunia ini yang dapat menandinginya.

Namun demikian terdapat hal-hal tertentu dimana kita menempatkan konsep manusia (insan) pada kutub yang berlawanan dengan Tuhan. Karena diantara semua objek yang diciptakan, manusia merupakan salah satu yang paling penting dalam peran berprosesnya penciptaan alam semesta. Misalnya saja, seperti hadits qudsi yang mengatakan tentang keutamaan Muhammad SAW, “seandainya bukan karena dirimu wahai Muhammad, niscaya tidak akan kuciptakan alam semesta”. Hal ini membuktikan bahwa antara manusia dengan Tuhan terdapat hubungan simetris, baik horizontal ataupun vertikal. Semua itu akan merangkum pemahaman konektivitas yang membentang (menjadikan sangat dekat) antara manusia dengan Tuhannya.

Pada sisi yang lain, Ia juga menjadi titik sentral dalam pencapain manusia berkenaan dengan ilmu pengetahuan, misalnya. Berangkat dari konsep bahwa ia merupakan the real truth (kebenaran sejati), atau bahkan Ia sebagai Hakikat Ilmu itu sendiri sehingga menjadi niscaya bahwa menuntut ilmu pada hakikatnya adalah untuk ma’rifah, mengetahui akan ketuhanan. Itulah yang menjadi kajian kita pada akhir bahasan ini sebagai kesimpulan atas berbagai proses penyempurnaan agama melalui kajian tasawuf.

Saat berbicara tentang ilmu, yaitu ‘alim sebagai subjek dan ma’lum sebagai objek, maka ilmu adalah proses atau konsep yang menjadikan pengetahuan tentang ma’lum. Pada level ini proses untuk mencapai pengetahuan terbagi dua, mungkin sudah sangat akrab bagi kita istilah akan ilmu hushuli dan dan ilmu hudhuri. Pada kategori pertama, antara subjek dan objek saling terpisah sehingga menjadikan antara keduanya terjadi akses yang tidak secara langsung. Ilmu Hushuli juga bisa disebut sebagai ilmu yang secara koresponden (knowledge by correspondence), artinya ada proses koresponden antara subjek dan objek, entitas satu dengan entitas lainnya. Namun tidak dengan Ilmu Hudhuri, yang mempunyai konsep berbeda dengan ilmu hushuli. Pada kategori ini ia adalah satu kesatuan, satu eksistensi. subjek dan objek tidak terpisah,. Lebih jauh dari itu, bila kita menelisik tentang ilmu hushuli (yakni meniscayakan keterpisahan antara subjek dan objek), maka keterpisahan yang disebabkan oleh jarak itu tidak terlepas dari hukum fisika yang selalu terkait dengan ruang dan waktu. Maka saat ketiadaan jarak antara subjek dan objek, ia samasekali tidak berjarak dan tidak berwaktu (timeless and spaceless). Itulah mengapa kemudian kategori ini juga disebut sebagai knowledge by presence (ilmu yang hadir). Hadir, sebuah kata yang lintas dimensi. Apabila kata hadir yang dimaksud berada dalam dimensi fisik, maka ia terikat dalam ruang dan waktu. Namun bila berada dalam dimensi metafisik yang timeless dan spaceless, maka kata hadir yang dimaksud akan tertuju pada kehadiran sesuatu yang senantiasa eksist, yakni Kehadiran yang tak berawal dan tak berakhir. Pada pengetahuan tentang Tuhan maka juga tak terlepas dari makhluk sebagai bukti-Nya. Secara bathini, terdapat koneksi antara Tuhan yang di atas dan manusia yang di bawah. Hal ini meniscayakan hubungan yang erat antara Tuhan dan manusia. Hanya saja hubungan tersebut tidak selalu sinergis saat tidak ada timbal balik antar keduanya. Menjadi menarik ketika persoalan ini diangkat, bagaimana manusia bisa berhubungan dengan Tuhan, dan begitupula sebaliknya.

Tuhan sebagai yang Transcendent, sangat bertolak belakang dengan manusia yang secara kodrati berkedudukan sebagai makhluk-Nya. Bertolak belakang disini dimaknai dengan dua kutub yang berbeda, namun memiliki hubungan yang erat. Tuhan tidak tunduk pada hukum alam yang bersifat material, Ia timeless and spaceless. Sedangkan manusia, secara kodrati merupakan himpunan dari ruh, nafs, dan jism. Jiwanya terpenjara dalam tubuh, yang secara pasti terkena dan tunduk pada hukum alam. Itulah, dasar yang melatari perbedaan khalik dengan makhluk. Secara hierarki kekuasaan pun kedudukannya sudah dapat dibedakan. Namun dalam hal ini, perbedaan yang ditonjolkan lebih dalam tataran dimensional.

“Aku adalah khazanah ynag tersembunyi dan Aku ingin diketahui,

karena itu Aku menciptakan dunia ini”

Tuhan sebagai Pencipta alam semesta, seperti dalam hadits qudsi, menyebut Dirinya sebagai “kanzan makhfiyyan” (harta tersembunyi). Sebagai Identitas Tertinggi (supreme identity) Ia mempunyai tendensi atau keinginan untuk diketahui oleh makhluk ciptaannya, karena ia bagaikan sesuatu yang sangat terahasiakan. Kanzan makhfi bukanlah sesuatu yang mudah diketahui dan diidentifikasi, melainkan harus digali dan diselami agar dapat diketahui. Di sisi lain, kedudukan manusia dengan Tuhan secara dimensional telah memisahkan dan membuat jarak antar keduanya. Tak pelak pada keadaan ini, demi untuk diketahui, maka Tuhan “turun” untuk mendekat pada makhluk-Nya. Proses turunnya Tuhan (tanazzul) bersifat harmony, berkeserasiaan. Ia menjadi pusat, atau yang banyak ditemukan dalam puisi sufistik sebagai ‘samudera tak bertepi’. Sehingga ‘turunNya’ tidak bermediasi. Dimana pun berada, Ia berkedudukan sebagai Poros.

Keadaan serupa juga ada dalam diri manusia, bahwa manusia juga mempunyai kerinduan untuk bertemu dengan Tuhannya. Keinginan tersebut terwujud saat manusia melepaskan jiwanya dari tubuh yang membelenggunya dan naik ke atas untuk meleburkan ‘diri’nya bersama Tuhannya. Sebelumnya, ia merupakan entitas yang tunduk pada hukum alam. Namun secara bertahap jiwanya bertransformasi, bergerak menuju Tuhan.

Dua dimensi yang terpisah antara yang fisik dan metafisik bertemu dalam stasiun yang dikenal sebagai alam barzakh. Barzakh merupakan alam persemaian jiwa. Tempat dimana jiwa telah mendapat bentuk yang kongkrit sebelum akhirnya ia masuk kealam fisik. Nafs (jiwa) mempunyai kecenderungan untuk mendekat dengan ruhnya ataupun mendekat dengan fisiknya. Dekat dengan ruhnya berarti ia naik keatas mendekat dengan Tuhan. Sedangkan mendekat dengan jasmaninya, berarti bergerak ke bawah menjauhi Tuhan. Dimensi barzakh inilah manusia dan Tuhan dapat ‘bertatap wajah’. Nabi yang menerima Yang Transendent dalam bentuk revelation berada pada alam ini setelah naik dari dimensi fisik.

Terlepas dari Nabi yang menerima revelation, adalah bahwa sebelum manusia terlahir, ia berada pada alam ini untuk mengikat perjanjian primordial dengan Tuhan. Melalui syahadah mereka mengakui Tuhan sebagai Tuhan mereka. Begitu pula manusia yang telah dapat terbebas dari tubuhnya akan naik pada alam ini. Stasiun barzakh sebagai tempat bertemunya Tuhan dan manusia dikarenakan kertidakmungkinan Tuhan mematerialisasikan diriNya, sehingga Ia harus turun (tanazzul) pada level yang lebih rendah. Ia tidak berawal dan tidak berakhir (la awwala wa laa akhira lahu). Sedangkan manusia bertolak dari zat Tuhan karena ia berawal dan berakhir, sehingga ia fana. Konsep fana bukan terbatas pada linguistiknya yang bermakna berubah, melainkan fana yang mengalami kehancuran.

Akibat turunnya Sang Transenden

Banyak kisah yang secara implicit telah menjelaskan terjadinya proses transformasi Tuhan yang turun menuju dimensi yang lebih rendah. Seperti dalam kisah Nabi Musa as. di mana Tuhan hanya menampakkan cahaya kemulyaanNya. Keinginanan Musa untuk melihat Tuhannya hanya menyebabkan gunung menjadi hancur berkeping-keping serta membuatnya dan kaumnya tak sadarkan diri. Fenomena ini sungguh mengindikasikan akan kehancuran yang akan terjadi saat Sang Transendent turun dalam dimensi yang lebih rendah, yakni alam fisik. Alam tidak akan kuat untuk “dihadiri” Tuhan yang transendent. Alam semesta tidak mampu menahan kekuatan Pancaran kemulyaan-Nya.

Dalam Al Qur’an juga telah dikisahkan bagaimana ketika gunung, langit, dan matahari ditawarkan untuk mengemban amanat kekhalifahan di muka bumi ini, maka tiadalah mereka sanggup untuk memikulnya. Namun ketika manusia diamanatkan untuk menjadi khalifah di muka bumi, amanat itu ia terima sebagai sebuah kesanggupan. Disinilah letak kemulyaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang sempurna, dengan dimensi spiritualitasnya ia mampu memikul amanat-Nya yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lainnya.

Pada ruang inilah begitu pentingnya arti kahlifah fil ardhi. Sosok spiritualis yang menerima amanat di bumi sebagai representator ajaran Tuhan. Ia merupakan pelaksana risalah Ilahi. Maka saat Tuhan bertanazzul –yang kemudian tereduksi dalam revelation-, dibutuhkan jiwa yang sanggup menerima limpahan revelation tersebut. Penerima haruslah saksi (syahid). Dan saksi haruslah Diri, bukan diri, yang berarti jiwa tak berwenang menyuarakan syahadah. Syahid disini juga terkait dengan tempat dimana manusia melakukan perjanjian primordial dengan Tuhan. Artinya, tanazzul yang terjadi tidak menuju pada dimensi fisik, melainkan hanya sampai dimana yang disebut sebagai barzakh.

Sangat besar akibat tanazzul yang terjadi. Manusia pilihan yang ditugaskan menerimanya pun, pada saatnya mengalami goncangan yang sangat hebat, terutama secara psikologis yang bersinggungan dengan Yang Transendental (meskipun telah tereduksi saat tanazzul menuju dimensi yang lebih rendah). Seperti dikisahkan dalam sejarah bahwa saat Nabi Muhammad saww. menerima wahyu (revelation), dirinya mengalami goncangan yang sangat hebat, sehingga menggigil pucat. Hal itu menggambarkan betapa Sesuatu itu sangatlah besar, yang tidak dapat menerimanya kecuali manusia pilihan yang mampu menerima dengan ‘tangan’nya. Dari sini pulalah pemaknaan agama dipahami. Revelation yang merupakan perwujudan dari Yang Transendent yang bertanazzul, masuk dalam dimensi fisik. Masuk dalam dimensi ruang dan waktu, yang merupakan bagian dari perjalanan sejarah. Sejarah merupakan peristiwa yang epistemologinya bergantung pada ruang dan waktu. Keduanya sangat inheren dalam pengetahuan sejarah. Maka saat revelation turun, yang terbungkus dalam agama, dimulailah perjalanannya dalam sejarah. Maka sejarah tasawuf menjadi signifikan, yakni dimulai saat turunnya Tuhan yang tereduksi dalam revelation, dan masuk dalam dimensi fisik.

***

Fungsi nubuwwah, yakni sebagai penerima sekaligus presentator mutlak akan apa yang diterimanya. Sungguh tidak dapat dibayangkan bahwa apa yang diterima olehnya secara hakikat telah tertanam dalam dirinya. Keduanya telah menyatu, sehingga apa yang ia katakan merupakan perkataanNya. Itulah mengapa dalam Al-Qur’an dikatakan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Nubuwwah sebagai jawabannya, karena keduanya bagaikan timbangan (mizan) yang tidak dapat berdiri sendiri, keduanya bersinergi satu sama lain. Dari pembahasan nubuwwah inilah terkait pula masalah kekahalifahan dan makna kewalian serta arti wilayah di dalamnya.

Nabi sebagai penerima tugas nubuwwah sudah menjadi keharusan bahwa dirinya juga seorang wali. Ia telah melakukan perjalanan spiritual yang kemudian dirinya turun kembali untuk mengemban amanat wilayah dalam dimensi spiritual. Tetapi sekaligus ia juga sebagai wadah dimana tempat menampung limpahan wahyu yang turun. Hal tersebut yang kemudian diklaim sebagai ajaran yang merupakan perintah Tuhan, disamping diberikan pada dirinya wilayah. Adapun wali yang mempunyai wilayah hanya sebagai mediator antara manusia dengan Tuhan. Ia sama seperti nabi yang telah melakukan perjalanan spiritual dan diamanatkan untuk mengemban wilayah spiritual. Maka seorang nabi pastilah juga seorang wali, namun tidak dengan wali dalam hal nubuwwah.

Dalam pembabakan manvantara bagian ini dijelaskan. Golden age yang merupakan masa keemasan, dimana revelation masih tercurah kepada manusia. Maka saat itu hanya dibutuhkan nabi sebagai penerima revelation. tetapi setelah masuk pada dark age, yakni dimana wahyu tak lagi tercurah, maka muncul periode wilayah yang diemban oleh para wali. Terlihat ganjal mengenai periodisasi itu, yakni saat periode golden age yang tidak mencakup kewilayahan di dalamnya. Penekanannya hanya berdasarkan limpahan revelation yang turun pada masa nubuwwah, sehingga masa nubuwwah tindak mencakup tentang wilayah. Wilayah hanya menjadi otoritas kewalian, dimana ia dimulai setelah masa nubuwwah berakhir.

Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa kedudukan wilayah lebih utama dibanding nubuwwah. Apalah arti nubuwwah tanpa adanya wilayah yang menjadi naungan darinya. Maka Nabi sebagai insan kamil yang menerima limpahan revelation haruslah juga memiliki wilayah. Dirinya sebagai sentral wilayah yang ada. Dari situ jelaslah akan Nabi yang sekaligus wali. Namun wali belumlah tentu nabi, mengingat sebagian wali adalah nabi. Wali sebagaimana nabi yang memiliki otoritas wilayah, namun ia bukanlah jiwa yang menerima limpahan revelation sebagaimana nabi. Begitupula akan masa nubuwwaah yang telah berakhir, dirinya hanya mengemban otoritas wilayah.

Saat kita berbicara tentang kekhalifahan yang dipikul oleh manusia, seyogyanya mengetahui makna dan fungsinya. Mengingat artinya yang seringkali disalah tafsirkan sehingga semakin menjadi tereduksi dari makna sebenarnya. Banyak yang menganggap arti khalifah (pemimpin) sebagai pemimpin masyarakat belaka. Jika arti kahalifah diinterpretasikan demikian, maka pada gilirannya akan tereduksi pula arti risalah kenabian Muhammad saw sebagai Rasul. paradigma ini berawal melalui pemahaman yang sempit terhadap risalah yang dipandang sebatas pembawa peraturan-peraturan untuk manusia. Lebih jauh lagi, sisi bathiniah dari risalah kenabian kerap tidak memahami.

Kekhalifahan terkait dalam konsep kepemimpinan dalam hal ini mencakup dua dimensi sekaligus, lahiriah dan bathiniah. Wilayah lahiriah –sesuai dengan arti kata kebahasaannya- mencakup segala aspek humanistik, bisa berbentuk konstitusi ataupun otoritas daerah teritorial kekuasaan. Kahalifah dalam term ini adalah pemimpin yang politis. Sedangkan dalam konsep tasawuf, yang menjadikan khalifah atau wali sebagai sentral penghubung Tuhan mengarah pada arti khalifah secara bathini. Khalifah pada sisi bathini ini mempunyai wilayah yang universal. Ia kerap disebut sebagai habl Allah (tali Allah) yang mengaitkan secara horizontal dunia yang lebih tinggi dengan dunia yang lebih rendah.

Kewalian (yang empunya wilayah) secara simbolik terealisasi dalam ajaran tasawuf. Tasawuf sangatlah universal, sehingga membutuhkan simbol-simbol sebagai perwujudan partikular untuk dapat merepresentasikan keuniversalitasannya. Maka pengertian tasawuf akan terputus tanpa adanya seorang wali yang menjadi mediator. Seorang wali sekaligus merupakan satu monumen suci, seperti halnya ka’bah yang merupakan kiblat dalam ibadah -yang secara hakiki merupakan simbol dari wajah Tuhan yang ada dimana-mana-. Patikularitas yang mencerminkan universalitas.

Terlepas dari simbolisasi dalam pemahaman itu, seorang wali merupakan representasi sekaligus personifikasiNya. Sebagai manusia, ia tidak terlepas dari fitrahnya. Namun ia juga tercipta atas citraan Tuhan, sintesis dari keagungan dan keindahanNya. Wilayah dalam tataran ini mencakup semesta alam, ia menjadi poros penghubung antar Tuhan dan manusia. Maka berkenaan dengan wilayah, penting di sini untuk membahas akan risalah nubuwwah (utusan kenabian) sebagai dasar formal terhadap wilayah yang dinaungi oleh sang wali.

Seperti yang dijelaskan diatas, mengurai hakikat nubuwwah pada tataran esoteris akan bertemu pada konsep wilayahnya seorang Nabi saww. Menjadi penting untuk sekadar diulas akan risalah nubuwwah, yang seyogyanya tidak hanya berorientasi pada yang eksoteris (syari’at). Seperti yang telah dipaparkan terdahulu, seorang yang mampu menerima kehadiran Ilahi adalah seorang yang telah mencapai kesempurnaan. Ia telah meleburkan kesadarannya (yang fana) pada Diri Tuhan (yang baqa’). Hal tersebut menjadikan dirinya berkesadaran tunggal di dua realitas yang berbeda.

Fungsi Agama

Pembahasan akhir dari sejarah tasawuf yang telah diuraikan, kirannya akan bermuara pada penelaahan fungsi agama. Setiap ajaran yang datang kepada manusia tentu diturunkan Al-Kitab sebagai penerang jalan, dan beserta utusanNya sebagai penuntun. Maka saat melihat amanah kekhalifahan dan kewilayahan yang dipikul oleh sang insan kamil sebagai personalisasiNya, dan juga risalah yang diembannya sebagai pembawa ajaran dari Tuhan kepada seluruh umat dalam nubuwwahnya, ajaran yang diturunkanNya tidak lagi diragukan, ia sebagai presentator mutlakNya. Begitu juga melalui konsep wilayah yang dirinya menjadi sentralnya di alam semesta ini sebagai mediator antara makhluk dengan sang khalik. Begitu pun dengan ajaran-ajaran yang dibawanya menjadi pegangan seluruh umatnya sampai akhir zaman nanti. Andai saja kita mengerti fungsi agama sebenarnya, yang tidak hanya berkutat pada hal-hal yang profanik maka agama dapat memperkuat keimanan seseorang tentang ketuhanan. Apa yag melatar belakangi pernyataan tersebut?

Tuhan merupakan Ilmu, yang kemudian turun dalam hati manusia. Maka hati kerap disebut sebagai nurani, yakni yang tempat yang selalu mendapat pancaran nur Ilahi. Awalnya, Tuhan sebagai ‘ilmu’ berkembang menjadi segala sesuatu yang kemudian disebut sebagai “ciptaanNya”. Secara hakiki semua ciptaan merupakan pancaran dari Ilmu tersebut. Sedangkan hati pada posisinya merupakan subjek yang selalu memahami akan realitas eksternal dari dirinya. Sehingga hati yang mencoba memahami realitas, sesungguhnya merupakan metode untuk ma’rifah.

Pengetahuan yang selalu dicari dalam realitas akan berpuncak pada pencarian terhadap kekuatan yang menguasai realitas tersebut, yakni Tuhan. Disisi lain, Tuhan sebagai kanzan makhfi mempunyai keinginan untuk diketahui sehingga Ia bertanazzul. Proses tanazzul menjadikanNya tereduksi. Teruduksi disini bukan dipahami sebagai pereduksian eksistensi, melainkan pereduksian sebagai penyeimbang terhadap dimensi yang lebih rendah dari ‘kedudukanNya’. Bila ia tidak mereduksi diriNya, maka akan menyebabkan kehancuran pada dimensi yang lebih rendah. Ia terus tereduksi hingga mendapat form yang lalu dikenal sebagai wahyu (revelation). Revelation ini yang kemudian membutuhkan acceptor yang mampu menerimanya. Maka di sinilah fungsi nubuwwah, yakni jiwa yang mampu menampung limpahan revalation yang turun. Dari nubuwwah inilah revelation masuk dalam dimensi fisik yang dibawa oleh nabi. Ia kemudizn terbungkus dalam bentuk (form) agama.

Manusia dalam mencari Tuhannya di dalam realitas akan menemukan agama sebagai ajaran yang dipercaya sebagai Tuhan. Maka kemudian seseorang menjadi beragama sebagai pencariannya akan Tuhan.Akhirnya pemahaman akan fungsi agama dapat ditemukan di sini. Agama yang berisikan ajaran-ajaran mempunyai implikasi lain akan pengetahuan yang sesuangguhnya. Pemaknaan agama pada dasarnya bukan sekedar pengetahuan akan syari’at, eskatologis, dan segala pengetahuan yang berpangkal dari ajaran agama. Ia juga sebagai media untuk akhirnya mengetahuai (ma’rifah)-Nya.

Reference:

· Izutsu, Toshihiko: relasi Tuhan dan Manusia, pendekatan Semantik terhadap Al Qur’an; Tiara Wacana, jogjakarta:2003

· Schimmel, Annemarie: dimensi mistik dalam Islam; Pustaka Firdaus, jakarta:1986

· Lings, Martin: Ada Apa dengan Sufi?; Pustaka Sufi, Jogjakarta:2004

· Nasr, Sayyid Hossein; Tasawuf Dulu dan Sekarang; Pustaka Firdaus, Jakarta; 2002


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: