MERANCANG AGENDA STRATEGIS UMAT

22 11 2009

Umat Islam di Indonesia merupakan penduduk terbesar. Dengan kekuatan demografis seperti itu sesungguhnya umat Islam dapat berbuat banyak di Republik ini. Termasuk di bidang politik. Lebih-lebih dengan pengalaman sejarah, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Bahwa umat Islam memberikan sumbangan sangat besar untuk kemerdekaan Indonesia.
Namun, dalam kehidupan politik umat Islam seringkali menuai kekecewaan dan kegagalan. Dalam masa revolusi pasca kemerdekaan yang sering disebut era Orde Lama, maupun pada masa Orde Baru dan reformasi, kekuatan umat Islam belum mencerminkan kemayoritasan umat Islam. Tidak jarang terjadi proses marjinalisasi politik terhadap umat Islam, yang mengakibatkan trauma dan membuat sebagian umat Islam kemudian berkonfrontasi terhadap negara, yang pada akhirnya kian meminggirkan posisi umat Islam. Di tengah politik Islam yang marjinal itu, kemudian kekuatan-kekuatan lain menunjukkan eksistensinya, sehingga kian membuat umat Islam merasa terasing di negeri sendiri.
Pada saat yang sama di tubuh umat Islam sendiri masih bersarang penyakit klasik. Masing-masing kekuatan politik Islam sulit untuk bersatu, setidak-tidaknya menggalang kekuatan strategis bersama. Sejak zaman Masyumi tahun 1945-1962, kala itu Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Nahdhatul Ulama keluar dari Masyumi, sehingga kekuatan Islam politik menjadi melemah. Di zaman awal Orde Baru pun demikian, termasuk kemelut yang mewarnai Parmusi dan kemudian Partai Persatuan Pembangunan, yang membelah kekuatan Islam modernis dan tradisional.
Di era reformasi terjadi kebangkitan Islam politik dengan hadirnya partai-partai politik Islam yang beragam. Namun keragaman itu akhirnya menambah kian lebarnya fragmentasi Islam politik dan politik Islam. Setiap pemilu sejak tahun 1999 hingga 2009 sulit menyederhanakan jumlah partai politik Islam. Terdapat kecenderungan baru, setiap kekecewaan di tubuh partai politik Islam berbuah lahirnya partai politik baru, sehingga kian menambah tercerai-berainya kekuatan politik Islam. Dengan adanya partai politik Islam yang bersayap dakwah, bahkan kian menambah fragmentasi atau keterpecahbelahan umat Islam dari sekadar konflik di ranah politik ke ranah organisasi kemasyarakatan, sehinga semakin menambah beban umat.
Kapan umat dan elite Islam mau belajar politik? Masihkah fragmentasi politik akan terus didaur-ulang hingga umat Islam semakin tidak memiliki kekuatan yang signifikan setara dengan kemayoritasannya di negeri ini. Semoga para elite politik Islam semakin dewasa dan mau belajar dari kegagalan dan fragmentasi politik yang selalu terjadi di setiap periode sejarah itu. Jika tidak mau belajar, apalagi ditambah dengan arogansi sebagian kekuatan politik Islam yang merasa paling hebat dan menjadi kekuatan alternatif, maka tingga menunggu kegagalan berikutnya. Sebab, seambisi apa pun kekuatan partai politik Islam manakala ingin menang sendirian dan merasa paling unggul, yang terjadi justru iklim tidak kondusif bagi umat Islam secara keseluruhan. Padahal, untuk menang 20% saja memerlukan kekuatan bersama dan tidak mungkin sendirian.
Kini saatnya kekuatan dan elite Islam di negeri ini mau memikirkan hal-hal strategis tentang masa depan umat dan bangsa secara keseluruhan. Bagaimana kekuatan-kekuatan dan para elite umat Islam memikirkan dan merumuskan masalah, tantangan, dan langkah strategis di bidang politik, ekonomi, sosial-budaya di Republik tercinta ini. Berpikir dan mengambil langkah politik pun tidak dapat dilakukan secara parsial, lebih-lebih dengan ananiyah hizbiyah (egoisme partai politik) yang tinggi. Problem dan agenda di bidang ekonomi, pendidikan, sosial budaya, bahkan agenda keagamaan juga perlu menjadi perhatian serius segenap kekuatan dan elite Islam. Kapan para elite dan kekuatan Islam duduk bersama dalam suasana batin dan intelektual yang positif memikirkan hal-hal strategis yang menyangkut nasib umat dan bangsa ke depan?l HNs


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: