Prospek Bisnis: Asuransi Syariah Takaful

11 02 2010

Kategori : Asuransi Syariah
Selasa, 24 April 2001

Catatan Redaksi
Artikel ini merupakan artikel lama (ditampilkan pada saat-saat awal tazkia.com), namun karena permintaan beberapa netter artikel ini kami tampilkan kembali. terima kasih.

Mengapa Asuransi Syariah di Indonesia Merupakan Peluang Bisnis yang Prospektif?

Karena, seiring dengan perkembangan ke arah stabilitas politik dan ekonomi, dengan jumlah penduduk lebih dari 180 juta jiwa, Indonesia merupakan salah satu portofolio investasi yang mulai kembali dilirik para investor manca negara. Kenyataan bahwa sekitar 90% penduduk beragama Islam dan bahwa kesadaran untuk mengekspresikan identitas kemuslimannya semakin meningkat, telah menjadi potensi pasar yang besar. Sebagai contoh, usaha di bidang makanan dan minuman berlabel halal, pakaian dan asesori muslim dan muslimah, perjananan haji dan umroh, pendidikan dan publikasi Islami, meningkat dengan pesat dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini.

Di lain pihak, sebagian ummat Islam memerlukan jaminan bahwa segala interaksi muamalah yang dilakukannya dalam upaya mencapai kesejahteraannya, sesuai dengan syariah.

Kebutuhan akan lembaga keuangan Islami bertambah kuat seiring dengan berkembangnya sektor industri jasa keuangan secara umum. Untuk memenuhi permintaan ummat tersebut, diperlukan lebih banyak bank dan asuransi syariah. Kehadiran lembaga-lembaga keuangan syariah lainnya dapat memacu persaingan yang sehat, yang akan meningkatkan kualitas produk dan pelayanan.

Bagaimana Analisa Peluang dan Tantangan Industri Asuransi di Indonesia Saat Ini?

Karakteristik

Sebagai sebuah lembaga jasa keuangan, bisnis asuransi jiwa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Merupakan bisnis kepercayaan. Integritas sumber daya insani yang terlibat di dalamnya merupakan faktor utama.
2. Bukan merupakan kebutuhan dasar pribadi. Diperlukan upaya khusus untuk meyakinkan calon peserta/kastemer.
3. Tergantung kepada kondisi ekonomi nasional. Perkembangan bisnis asuransi biasanya seiring dengan perkembangan ekonomi nasional. Bisnis asuransi mendukung perkembangan ekonomi nasional. Kegiatanpemasaran asuransi menciptakan lapangan kerja yang luas. Dana yang terkumpul dari premi diinvestasikan kembali pada berbagai sektor usaha lain.
4. Merupakan produk nirwujud. Harus bersifat mudah dimengerti dan menarik.
5. Memungkinkan untuk dipasarkan bersama dengan atau merupakan bagian dari produk atau jasa lain, terutama dengan jasa perbankan dan perjalanan/wisata.
6. Memiliki fungsi sosial, karena manfaat sangat dirasakan oleh mereka yang mendapat santunan.
7. Merupakan manfaat jangka panjang. Beberapa jenis polis asuransi dapat meliputi jangka waktu 30 tahun, rata-rata 12 tahun.
8. Sangat diatur. Pemerintah sangat peduli terhadap kepastian perlindungan bagi pemegang polis.

Daur Hidup Industri

Berdasarkan ciri-ciri tersebut di atas, nampaknya daur hidup bisnis asuransi di Indonesia sampai saat ini masih berada pada tahap perkembangan. Pertumbuhan yang tinggi baik dalam jumlah perusahaan maupun jumlah pemegan polis, serta promosi yang sangat aktif merupakan indikasi tahap ini. Asuransi kira-kira berada pada tahap yang sama dengan industri pasar modal dan setahap di belakang industri perbankan.
Sementara itu, asuransi syariah (takaful) masih berada dalam tahap perkenalan. umumnya, industri pada tahap ini masih memperkenalkan disain produk dasar, konsumen masih harus diyakinkan untuk membeli produk. Biaya pemasaran untuk membangun pengetahuan konsumen relatif masih tinggi.

Kecenderungan

Dewan Asuransi Indonesia melaporkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir ini kecenderungan industri asuransi jiwa di Indonesia adalah:
• Konsumen lebih menyukai produk yang bersifat tabungan dibanding dengan jaminan perlindungan murni.
• Peningkatan layanan jasa purna-jual, sehingga menurunkan pemutusan polis sebelum jatuh tempo dan meningkatkan pendapatan premi lanjutan.
• Peningkatan kualitas agen pemasaran yang direkrut oleh perusahaan asuransi asing/gabungan. Produksi premi per agen meningkat.
• Jumlah pemegang polis meningkat lebih dari 10% dari populasi, namun sebagian besar termasuk dalam polis kumpulan dan terkonsentrasi pada 4 perusahaan besar.
• Pengembangan metoda distribusi, seperti melalui ‘bancassurance’ dan ‘direct mail’.
• Peningkatan peranan agen pemasaran menjadi seperti penasehat keuangan tidak hanya sebagai perantara saja.

Dengan menganalisa kecenderungan tersebut, tampak bahwa pasar di negara maju sudah jenuh. Sedangkan di negara berkembang masih terbuka luas. Kemudian, peningkatan kesadaran konsumen terhadap haknya serta ketersediaan pilihan yang paling sesuai telah memacu perusahaan asuransi untuk senantiasa meningkatkan pelayanannya agar tetap mampu bersaing secara sehat. Selanjutnya, perubahan pola hubungan kerja pada masa ini telah membuat orang merasa perlu untuk menjaga kepastian adanya penghasilan ketika keaadan tiba-tiba berubah sulit, maka produk bersifat tabungan lebih disukai. Demam globalisasi juga mempercepat hubungan bsinis internasional dan investasi di berbagai sektor dan aspek usaha. Terakhir, sistem informasi merupakan kunci keberhasilan bisnis masa kini, terbukti bahwa sampai saat ini empat besar yang menguasai informasilah yang menguasai pasar.

Peluang Pasar

Sebagaimana disebut di atas, ada lebih dari 180 juta Muslim di Indonesia dan kesadaran akan keislamannya terus meningkat, merupakan peluang pasar yang lebar. Permintaan terhadap kehadiran lembaga keauangan syariah di berbagai tempat terus meningkat. Krisis ekonomi dalam dua setengah tahun terakhir ini memperlihatkan bahwa Indonesia memerlukan konsep lain dalam menata perekonomiannya. Lembaga ekonomi syariah adalah pilihan yang paling sesuai. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan pasar, di samping juga mendidik masyarakat, diperlukan lebih banyak bank syariah, – dan kini telah mulai bermunculan-, serta asuransi syariah sebagai ‘counterpart’nya. Kehadiran lembaga keuangan syariah baru akan memacu persaingan yang sehat untuk pengembangan kualitas yang pada akhirnya akan menguintungkan bangsa dan negara.
Persaingan.

Pada saat ini, jumlah perusahaan asuransi jiwa di Indonesia ada 53. Salah satunya adalah PT Asuransi Takaful Keluarga yang merupakan satu-satunya perusahaan asuransi jiwa syariah di Indonesia sampai saat ini. Tabel 1 menunjukkan daftar perusahaan asuransi jiwa secara alfabet. Tiga dari empat perusahaan terbesar adalah milik negara, yang keempat masih berhubungan dengan program pemerintah. Mereka memiliki ‘captive market’ atau pangsa pasar yang berkaitan dengan pemerintah. Dua diantaranya adalah perusahaan kawakan yang telah ada sejak jaman kolonial Belanda. Yang menarik dalah bahwa PT Asuransi Takaful Keluarga ternyata mampu menyisihkan 42 perusahaan lain yang sudah jauh lebih lama beropersi (Tabel 2).

Peraturan Pemerintah.

Asuransi termasuk bisnis yang diatur secara ketat. Maksud pemerintah adalah untuk melindungi konsumen dari kemungkinan terjadinya kecurangan perusahaan. Adanya batas rasio modal terhadap premi terkumpul telah menyebabkan beberapa perusahaan masuk dalam kategori insolvent. Saat ini modal dasar perusahaan asuransi baru minimal harus Rp 100 milyar.

Peraturan pemerintah yang masih menjadi kendala bagi asuransi syariah adalah dalam hal lahan investasi. Perusahaan asuransi dilarang berinvestasi di pasar modal luar negeri. Kondisi itu membatasi kesempatan perusahaan untuk diversifikasi resiko dan kemungkinan mendapatkan keuntungan lain. Untuk asuransi syariah, simpanan berjangka / deposito hanya boleh pada bank syariah. Di Indonesia belum ada pasar uang syariah.

Kesimpulan

Sebagaimana halnya lembaga keuangan lain, diperlukan tiga unsur pokok dalam pengembangan bisnis asuransi syariah, yaitu:
1. Adanya sumber daya manusia yang profesional dan mempunyai komitmen keislaman yang tinggi.
2. Tersedianya modal yang memadai.
3. Dapat diterapkannya sistem operasi yang sesuai.

Sedangkan beberapa faktor yang mendukung perlunya pendirian perusahaan asuransi syariah yang baru adalah:
• Peningkatan permintaan sehubungan dengan optimisme perbaikan ekonomi.
• Peningkatan kesadaran untuk mengikuti aturan syariah dalam interaksi ekonomi.
• Keunggulan sistem mudharabah (bagi-hasil) dan tabarru (Tabel 3)
• Konsep pemasaran yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan perusahaan.

Tabel 1. List of Life Insurance Company in Indonesia
No Name of Company No Name of Company
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26 Adisarana Wanaartha
AIA Indonesia
Allianz Aken Life
AMP Panin Life
Asih Great Eastern
Aspac Life
Astra Jardine CMG Life
Bakrie Life
Berkah Harda Santosa
Binadaya Nusa Indah
Binasakti Sejahtera
Bringin Jiwa Sejahtera
Bringin Putra Sejahtera
Buana Putra
Bumi Asih Jaya
Bumiarta Reksatama
Bumiputera 1912
Bumiputera John Hancock
Central Asia Raya
Century Lifindo Perdana
Danamon Aetna Life
Dharmala Manulife
Eka Life
Inda Tamporok Life
Indolife Pensiontama
Intan Life 27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52 Jiwasraya
Koperasi Asuransi Indonesia
Lippo Life
Mantari Mulia Sejahtera
Mira Life
Modern Sunlife
Mukjizat Utama
Nabasa Life Insurance
Namura Tatalife
Niaga Cigna Life
Ongko Life Insurance
Panin Life
Pasaraya Life
Principal Egalita Indonesia
Prudential Bancbali Life
Rama Life
Sewu New York Life
Simas Lend Lease Life
Staco Raharja
Takaful Keluarga
Tata International Life Assurance
Tempo National Life
Tugu Mandiri
OUB Life Sun Assurance
Winterthur Life Indonesia
Zurich PSP Life
Tabel 2. Ranking of policyholder
Rank Number Name of Company Number of Policyholder
1
2
3
4
10 Bringin Jiwa Sejahtera
AJB Bumiputera 1912
Jiwasraya
Koperasi Asuransi Indonesia
Asuransi Takaful Keluarga 6,766,345
4,789,062
3,010,210
2,423,672
150,107
Total 53 Companies 20,380,574
Tabel 3. Profit-Sharing Insurance Fund
No Name of Fund Usage Portion
1 Shareholders Fund (SHF) — Pre-operating expenses, initial costs, and fixed assets.

– Principal investment, such as time-deposits at bank, equity on stock-market, unit trust, direct investment.

– The return of investment shall cover all the overhead costs disbursed by the company. — 10 – 15%

– 85 – 90%

– 100%, the surplus shall be re-accumulated to the principal.
2 Policyholders Fund (PHF) — The first year premium shall be deducted to cover customers’ care expenses, incl. Marketing incentives, outlet opening, promotion.

– The annual premium shall be deducted to accumulate ‘tabarru’ (collective) fund.

– The rest of the fund shall be invested prudently yet to gain an optimal profit.

– The principal of the invested fund shall be booked into the policyholder’s account.

– The yield of investment is subject to distribute between policyholders and company (shareholders), in an agreed profit-sharing basis. — 30 – 40%

– 7 – 17%

– 43 – 63% of the first year premium,

– 83 – 93% of the consecu-tive /renewals premium.

– 100% of the principal.
60% for the policyholders
40% for the shareholders
3 Tabarru Fund — The fund is to provide the intention of policyholders to reciprocally guarantee each other. To cover payable claims. — The surplus of the fund shall accumulate to an unlimited amount. This will in turn reduce the customers’ care deduct-ion, and eventually will increase the return of PHF investment.
Analisa SWOT Asuransi Syariah Baru di Indonesia

Peluang

Beberapa faktor yang merupakan peluang dan mendukung prospek Asuransi Syariah adalah :
• Keunggulan konsep Asuransi Syariah dapat memenuhi peningkatan tuntutan “fairness’/ rasa keadilan dari masyarakat.
• Jumlah penduduk beragama Islam di Indonesia lebih dari 180 juta orang.
• Meningkatnya kesadaran untuk bermuamalah sesuai syariah, tumbuh subur khsususnya pada masyarakat golongan menengah.
• Meningkatnya kebutuhan jasa asuransi karena perkembangan ekonomi ummat.
• Tumbuhnya lembaga keuangan syariah (LKS) lainnya seperti bank dan reksadana.
• Kompetitor dalam bisnis asuransi syariah ini masih sedikit.
• Berlakunya undang-undang otonomi daerah yang akan memacu perkembangan ekonomi daerah.
• Kebutuhan meningkatkan pendidikan (anak)
• Meningkatnya resiko kehidupan
• Meningkatnya bea-bea kesehatan (harga obat dll)
• Menurunnya rasa “tolong-menolong” di masyarakat (tidak membudaya lagi)
• Globalisasi (teknologi internet sebagai penunjang bisinis)
• Adanya UU Dana Pensiun
• “Employee Benefits” sebagai bagian dari paket perusahaan dalam rekrutmen karyawan

Ancaman/Tantangan

Sedangkan faktor yang masih merupakan ancaman atau tantangan bagi perkembangan Asuransi Syariah di Indonesia adalah :
• Globalisasi, masuknya asuransi luar negeri yang memiliki: kapital besar dan teknologi yang lebih tinggi sehingga membuat premi asuransi yang lebih murah
• Asuransi konvensional dan lembaga keuangan lainnya yang lebih efisien.
• Langkanya ketersediaan SDM yang “qualified” dan memiliki semangat syariah
• Citra lembaga keuangan syariah belum mapan di mata masyarakat, padahal ekspektasi masyarakat terhadap LKS sangat tinggi.
• Sarana investasi syariah yang ada sekarang belum mendukung secara optimal untuk perkembangan Asuransi Syariah.
• Belum ada UU dan PP yang secara khusus mengatur asuransi syariah.
• Budaya suap dan kolusi dalam asuransi kumpulan (group insurance) masih kental.
• Alokasi pengeluaran masyarakat untuk asuransi masih sangat terbatas, hal ini tampaknya berkaitan dengan masalah sosialisasi asuransi dan pengalaman berasuransi.

Kekuatan

Dalam upaya pengembangan operator Asuransi Syariah baru di Indonesia, yang dapat menjadi kekuatan positif adalah sebagai berikut:
• Tenaga kerja profesional/ sumberdaya manusia inti yang kompeten dan memiliki integritas moral dan ghirah Islam, yang berada dalam sebuah serta sebagai ‘team-work’ yang solid.
• Pemegang saham yang memiliki visi dan misi syariah yang jelas.
• Kelompok Pemegang Saham mampu mengusahakan “captive market” awal.
• Kelompok Pemegang Saham diharapkan memiliki potensi ‘network’ yang bisa diintegrasikan dengan sistem yang dimiliki ‘professional team work’.
• Kelompok Pemegang Saham diharapkan memiliki infra-struktur teknologi dan potensi tenaga ahli (misalnya: fund manager).
• Dalam aspek legal, sifat perjanjian yang memenuhi syarat syariah mampu memberi rasa aman kepada peserta Asuransi Syariah, selain unsur duniawi semata.
• Adanya unsur dakwah.
• Produk asuransi bersifat transparan (berkeadilan).

Kelemahan

Namun demikian, sistem Asuransi Syariah dan ‘core team’ Asuransi Syariah baru ini memiliki beberapa kelemahan yang masih dalam tahap peningkatan, yaitu:
• SDM pendukung (lapisan kedua, dst.) belum banyak memahami bisnis syariah
• Dalam hal pemasaran, alternatif distribusi relatif masih terbatas dibanding pola konvensional.
• Kompleksitas dalam administrasi syariah (misalnya: perhitungan bagi hasil dan tingkat hasil investasi) memerlukan dukungan sistem yang handal.
• Permodalan yang terbatas akan mempengaruhi:
– Sistem/teknologi pendukung manajemen.
– Strategi bisnis
– Ketersediaan infra struktur (internal , external, customer support, etc.)
• Apabila Pemegang Saham kurang menghargai pentingnya investasi di bidang IT sebagai “modeling tools” dan “administrasi tools”.
• Pengalaman langsung/penerapan model terhadap bisnis riil belum cukup (baru pada tahap teoritis).
• Lemahnya “public relations” untuk mengkomunikasikan keunggulan LKS (idealnya beralih dari “short-term/hit&run marketing” menjadi “long-term marketing/ customer relationship”)

About these ads

Aksi

Information

One response

12 05 2010
tamasolusi

nice post…salam kenal…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: